1.
Bagaimana Karl
Marx mempengaruhi perbandingan politik?
Jawab:
Karl
Marx merupakan salah satu dari dari pemikir besar awal yang gagasan-gagasannya
secara substansi mempengaruhi paradigma ortodoks dan radikal. Karl Marx
mencerminkan sekumpulan dalil yang memberikan fasilitas bagi analisis
komparatif. Dalil awal sejarah adalah bahwa untuk dapat membentuk sejarah orang
harus mampu bertahan hidup. Ini melibatkan faktor-faktor produksi, seperti
peralatan, tanah, dan permesinan, untuk memenuhi kebutuhan-keebutuhan dasar seberti
makanan, tempat tinggal, pakaian dan sebegainya. Kepuasan atas
kebutuhan-kebutuhan primer tersebut membawa pada kebutuhan-kebutuhan baru.
Hubungan sosial melibatkan kerjasama beberapa individu. Dalam hubungan-hubungan
historis primer inilah orang memiliki kesadaran atas lingkungan serta
hubungannya dengan orang-orang dan hal-hal lain. Kesadaran berkontradiksi
dengan kekuatan-kekuatan produksi, mengakibatkan adanya pembagian tenaga kerja.
Pembagian tenaga kerja menentukan kelas-kelas sosial para penguasa dan massa.
Pergolakan
sejarah sering digambarkan terjadi antara demokrasi, aristokrasi, dan monarki,
namun bentuk yang sebenarnya adalah perjuangan kelas-kelas yang berbeda.
Perjuangan-perjuangan ini meluas dari individu dan keluarga hingga komunitas
dan negara, dan akhirnya dunia seutuhnya.dibawah kapitalisme,satu kelas hidup
lewat kepemilikan, sementara yang lain lewat pekerjaan. Para pemilik
mempertahankan propertti mereka, para pekerja mempertahankan kemanusiaan.
Konflik tersebut terjadi antara dua kelas , yang pada gilirannya menghancurkan
hubungan asing antara orang-orang dengan apa yang mereka produksi-ini
menghasilkan pertukaran dan produksi dibawah control mereka sendiri.
2.
Apa yang membuat
Weber mampu mempengaruhi mahasiswa perbandingan politik di Amerika Serikat
Jawab:
Sama
halnya dengan Karl Marx, Max Waber juga merupakan salah satu pemikir besar yang
mempengaruhi paradigma ortodoks dan radikal. Waber hanya melakukan sedikit
upaya untuk mensintesiskan gagasan-gagasannya ke dalam suatu teori yang padah
dan juga komperhensif, namun secara keseluruhan tulisan-tulisannya
mengungkapkan sebaris pemikiran yang sepenuhnya berasimilasi ke dalam ilmu-ilmu
sosial kontemporer. Talcott Parsons menyandang jasa terbesar atas asimilasi
teori Weberian ke dalam pemikiran kontemmporer, dan parson berhasil memperhalus
banyak dalil umum Weber kedalam sekumpulan pertanyaan yang secara luas telah
diterapkan didalam penelitian-penelitian komparatif.
Weber mengerjakan sebuah sebuah studi
komperatif tentang agama-agama besar dunia dalam upaya memperkokoh pendapatnya
dalam the protestant ethici bahwa
agama adalah krusial dalam penjelasan seseorang mengenai jalur-jalur
alternative yang dilalui oleh peradaban-peradaban besar dalam perkembangannya.
Dalam studi ini, Weber teryakinkan bahwa pemisahan antara gereja dan negara
yang berkembang secara bertahap dalam peradaban Eropa merupakan pusat
penjelasan rasionalisme modern. Apa yang Weber takutkan, meski demikian, adalah
bahwa rasionalisme modern pada akhirnya akan menghasilkan rasionalisasi cara-cara dan tujuan-tujuan akhir. Ini
menyiratkan terdapatnya tujuan-tujuan yang secara rasional dijunjung karena
lebih disukai ketimbang yang lain: satu dalil terhadap keyakinan Weber bahwa
nilai-nilai secara historis bersifat relative. Ia lebih menyukai integritas
prinsip-prinsipnya ketimbang praktek dagang sapi dalam politik. Dipengaruhi
oleh Weber, beberapa ilmuwan sosial kontemporer tanpa sadar keliru dalam
menginterpretasikan karya Weber. Kebingungan ini merupakan konsekuensi dari
penekanan parsons terhadap beberapa aspek teori Weber dengan sikap berbeda
dengan yang dilakukan Weber sendiri;penegasan interpretasinya bertolak belakang
dengan yang dilakukan Weber; penyamaan konsep-konsepnya menghasilkan distorsi
atas makna pemikiran Weber; dan generalisasi aspek-aspek Weber yang dilakukan
memiliki kontrdiksi dalam karakterisasi tertentu.
3.
Bagaimana
perjalanan Weber dalam politik hingga ia menjadi politisi?
Jawab:
Weber
merupakan anak seorang pejabat public yang sebelumnya menjadi politisi, Weber tumbuh dibawah pengaruh lingkaran
intelektual sempit yang menjadi ruang gerak ayahnya. Weber memasuki Universitas
of Heidelberg di tahun 1882, memilih untuk mempelajari ekonimi, filosofi, dan
hukum Romawi. Selanjutnya dia diterima di sekolah hukum Universitas of Berlin
dimana dia mengajar hingga mendapat gelar professor penuh dalam ekonomi dari
Universitas of Freiburg in Breisgau. Weber secara terbuka membenci tanggung
jawab pengajaran di universitas. Selama tahun-tahun awal tersebut dia mengajar
satu karir terpisah seiring dengan jabatan universitasnya, dengan bekerja
sebagai konsultan pada beberapa organisasi public dan swasta. Bagi Waber, Bismarck
sebagai tokoh dominan di era tersebut merupakan sebuah inspirasi sekaligus
dilema. Paradoknya adalah bahwa sekalipun Bismarck berhasil menangani kekuasaan
secara efektif dan sepenuhnya mendominasi kehidupan politik negara, pada saat
bersamaan secara menyedihkan ia gagal menjalankannya untuk membentuk masa depan
sebagaimana ia maksud. Weber memandang paradox ini sebagai satu perumpamaan
modern, dimana pesan moralnya adalah tindakan-tindakan manusia yang paling
disangaja dan bermaksud pun dapat menghasilkan konsekuensi-kensekuensi yang tidak
diharapkan.
Di
tahun 1897 Weber mengalami kelelahan
mental, dan pada akhirnya ia memandang perlu untuk menghentikan tugas-tugas
universitasnya. Dalam periode yang sama, Weber menerbitkan sebuah esai tentang
metodologi dimana ia memberikan garis besar penggunaan “tipe-tipe ideal.” Yaitu
sebuah paham buatan yang dapat dipergunakan imuwan sosial mengkonseptualisasi
kategori-kategori analitis dengan kegunaannya bagi pemahaman sejarah. Weber
tidak pernah sukses dalam kehidupan politik pada skala yang ditentukannya.
Meskipun dalam teori Weber memahami bahwa politik merupakan seni kompromi dan
akomodasi, sebagian besar kegagalannya dalam menapaki karir politik tumbuh dari
ketidakfleksibelan dirinya dalam berhubungan dengan orang-orang lain.
Weber
percaya bahwa dari sejarah orang tidak dapat menarik kesimpulan apa yang tidak
terjadi dan bahwa sejarah tidak mengandung hukum-hukum universal, lebih sedikit
hukum-hukum berfaktor tunggal seperti misalnya penjelasan tentang perkembangan
dari sisi ekonomi. Pemahaman Weber tentang obyektivitas dan nilai-nilai
membawanya memperbandingkan tipe-tipe ideal dengan fakta-fakta. Ia mekukannya
dengan menyusun satu tipe ideal secara heuristic.
4.
Bagaimana
perbedaan perspektif antara Marx dan Weber?
Jawab:
Satu
perbedaan fundamental orientasi Marx dan Weber yang membantu mengungkapkan
bentuk alami pemikiran mereka adalah Marx melibatkan dirinya untuk menemukan
pola-pola keseragaman yang mendasari setiap periode sejarah. Weber, di sisi
lain, memandang kapitalisme Eropa sebagai puncak sejarah Eropa yang dianggap
sebagai peradaban tunggal. Pandangan liberalis Weber seringkali dikaitakn
dengan dampaknya terhadap ilmu sosial Amerika Serikat . Richard Aschcraft
berpendapat bahwa Marx dan Weber secara mendasar telah mempengaruhi kecenderungan-kecenderungan
yang divergen. Marx secara metodologi adalah Hegelian dan Weber adalah Kantian.
Lebih jauh lagi Weber tidak seperti Marx, memisahkan pernyataan-pernyataan
factual dan normative. Banyak perbedaan serta beberapa kemiripan dalam pemikiran
Marx dan Weber yang teridentifikasi secara sistematik metrangkum beberapa
gagasan utama yang mengalir dalam kerya-karya mereka.
5.
Jelaskan
pengaruh-pengaruh pradigmatik perbandingan politik?
Jawab:
Pengaruh
Marx dan Weber pada setiap sub bidang perbandingan politik tidaklah seragam,
dan sub-sub bidang tersebut tidaklah terbebas dari pengaruh yang lain.
Elemen-elemen esensial pemikiran Marx yang mungkin relevan dengan pembahasan
kritis teori sistem adalah tentang negara dan kelas penguasa, suprastruktur dan
basis structural, kenyataan dan ideologi, kekuatan-kekuatan material dan
hubungan-hubungan produksi, serta mode-mode produksi yang mencirikan
zaman-zaman dalam sejarah. Negara berada di sisi kelas penguasa dan mengelola
hubungan-hubungannya. Basis structural diketemukan dalam kekuatan-kekuatan
material dan hubungan-hubungan produksi-mode produksi atau landasan sebenarnya
yang menentukan pembagian pekerja dan kelas. Weber juga merujuk pada
“kepentingan-kepentingan ideal dan material” di mana seluruh orang terlibat.
Pengamatannya menyiratkan satu kemajemukan kepentingan serta banyaknya kekuatan
yang bersaing, dan kewenangan didasarkan pada “orde tereligitimasi”. Seluruh
pengertian ini disertakan dalam konsep Weber tentang negara. Marx memandang
segala bentuk dominasi yang sah, dan Weber melihatnya sebagai bentuk-bentuk
dominasi yang sah. Marx memaksakan penghapusan negara dan kelas-kelasnya; Weber
membayangkan adanya kemajuan negara lewat legitimasi dari segala kegiatannya.
Baik Marx maupun Weber menguji beberapa negara menggunakan kekuatan fisik atau
kekerasan. Penjelasan Weber mengkombinasikan kekuatan negara dan kekerasan
dengan legitimasi, sementara Marx memberikan definisi yang lebih luas dimana
negara tidak lain hanyalah satu instrumen kekerasan yang menindas
tingkatan-tingkatan yang lebih rendah. Pada akhirnya orang harus memutuskan
apakah konfigurasi kelas membawa penelitian pada arahan yang berguna, di mana
dalam hal ini arx memberikan perumusan analisis kelas yang sangat membantu.
Namun demikian, seandainya kita memandang kelas sebagai hal yang kurang
menarik, karena itu akan membelokkan penelaahan dari bentuk-bentuk situasional
dan institusional kekuasaan sebegaimana ditunjukkan Weber, maka analisis kelas
dapat ditinggalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar