Selasa, 18 Agustus 2020

MARX DAN WEBER SEBAGAI PELOPOR

           

1.      Bagaimana Karl Marx mempengaruhi perbandingan politik?

Jawab:

            Karl Marx merupakan salah satu dari dari pemikir besar awal yang gagasan-gagasannya secara substansi mempengaruhi paradigma ortodoks dan radikal. Karl Marx mencerminkan sekumpulan dalil yang memberikan fasilitas bagi analisis komparatif. Dalil awal sejarah adalah bahwa untuk dapat membentuk sejarah orang harus mampu bertahan hidup. Ini melibatkan faktor-faktor produksi, seperti peralatan, tanah, dan permesinan, untuk memenuhi kebutuhan-keebutuhan dasar seberti makanan, tempat tinggal, pakaian dan sebegainya. Kepuasan atas kebutuhan-kebutuhan primer tersebut membawa pada kebutuhan-kebutuhan baru. Hubungan sosial melibatkan kerjasama beberapa individu. Dalam hubungan-hubungan historis primer inilah orang memiliki kesadaran atas lingkungan serta hubungannya dengan orang-orang dan hal-hal lain. Kesadaran berkontradiksi dengan kekuatan-kekuatan produksi, mengakibatkan adanya pembagian tenaga kerja. Pembagian tenaga kerja menentukan kelas-kelas sosial para penguasa dan massa.        

            Pergolakan sejarah sering digambarkan terjadi antara demokrasi, aristokrasi, dan monarki, namun bentuk yang sebenarnya adalah perjuangan kelas-kelas yang berbeda. Perjuangan-perjuangan ini meluas dari individu dan keluarga hingga komunitas dan negara, dan akhirnya dunia seutuhnya.dibawah kapitalisme,satu kelas hidup lewat kepemilikan, sementara yang lain lewat pekerjaan. Para pemilik mempertahankan propertti mereka, para pekerja mempertahankan kemanusiaan. Konflik tersebut terjadi antara dua kelas , yang pada gilirannya menghancurkan hubungan asing antara orang-orang dengan apa yang mereka produksi-ini menghasilkan pertukaran dan produksi dibawah control mereka sendiri.

           

2.      Apa yang membuat Weber mampu mempengaruhi mahasiswa perbandingan politik di Amerika Serikat

Jawab:

            Sama halnya dengan Karl Marx, Max Waber juga merupakan salah satu pemikir besar yang mempengaruhi paradigma ortodoks dan radikal. Waber hanya melakukan sedikit upaya untuk mensintesiskan gagasan-gagasannya ke dalam suatu teori yang padah dan juga komperhensif, namun secara keseluruhan tulisan-tulisannya mengungkapkan sebaris pemikiran yang sepenuhnya berasimilasi ke dalam ilmu-ilmu sosial kontemporer. Talcott Parsons menyandang jasa terbesar atas asimilasi teori Weberian ke dalam pemikiran kontemmporer, dan parson berhasil memperhalus banyak dalil umum Weber kedalam sekumpulan pertanyaan yang secara luas telah diterapkan didalam penelitian-penelitian komparatif.

             Weber mengerjakan sebuah sebuah studi komperatif tentang agama-agama besar dunia dalam upaya memperkokoh pendapatnya dalam the protestant ethici bahwa agama adalah krusial dalam penjelasan seseorang mengenai jalur-jalur alternative yang dilalui oleh peradaban-peradaban besar dalam perkembangannya. Dalam studi ini, Weber teryakinkan bahwa pemisahan antara gereja dan negara yang berkembang secara bertahap dalam peradaban Eropa merupakan pusat penjelasan rasionalisme modern. Apa yang Weber takutkan, meski demikian, adalah bahwa rasionalisme modern pada akhirnya akan menghasilkan rasionalisasi cara-cara dan tujuan-tujuan akhir. Ini menyiratkan terdapatnya tujuan-tujuan yang secara rasional dijunjung karena lebih disukai ketimbang yang lain: satu dalil terhadap keyakinan Weber bahwa nilai-nilai secara historis bersifat relative. Ia lebih menyukai integritas prinsip-prinsipnya ketimbang praktek dagang sapi dalam politik. Dipengaruhi oleh Weber, beberapa ilmuwan sosial kontemporer tanpa sadar keliru dalam menginterpretasikan karya Weber. Kebingungan ini merupakan konsekuensi dari penekanan parsons terhadap beberapa aspek teori Weber dengan sikap berbeda dengan yang dilakukan Weber sendiri;penegasan interpretasinya bertolak belakang dengan yang dilakukan Weber; penyamaan konsep-konsepnya menghasilkan distorsi atas makna pemikiran Weber; dan generalisasi aspek-aspek Weber yang dilakukan memiliki kontrdiksi dalam karakterisasi tertentu.

 

3.      Bagaimana perjalanan Weber dalam politik hingga ia menjadi politisi?

Jawab:

            Weber merupakan anak seorang pejabat public yang sebelumnya menjadi politisi,  Weber tumbuh dibawah pengaruh lingkaran intelektual sempit yang menjadi ruang gerak ayahnya. Weber memasuki Universitas of Heidelberg di tahun 1882, memilih untuk mempelajari ekonimi, filosofi, dan hukum Romawi. Selanjutnya dia diterima di sekolah hukum Universitas of Berlin dimana dia mengajar hingga mendapat gelar professor penuh dalam ekonomi dari Universitas of Freiburg in Breisgau. Weber secara terbuka membenci tanggung jawab pengajaran di universitas. Selama tahun-tahun awal tersebut dia mengajar satu karir terpisah seiring dengan jabatan universitasnya, dengan bekerja sebagai konsultan pada beberapa organisasi public dan swasta. Bagi Waber, Bismarck sebagai tokoh dominan di era tersebut merupakan sebuah inspirasi sekaligus dilema. Paradoknya adalah bahwa sekalipun Bismarck berhasil menangani kekuasaan secara efektif dan sepenuhnya mendominasi kehidupan politik negara, pada saat bersamaan secara menyedihkan ia gagal menjalankannya untuk membentuk masa depan sebagaimana ia maksud. Weber memandang paradox ini sebagai satu perumpamaan modern, dimana pesan moralnya adalah tindakan-tindakan manusia yang paling disangaja dan bermaksud pun dapat menghasilkan konsekuensi-kensekuensi yang tidak diharapkan.

            Di tahun 1897   Weber mengalami kelelahan mental, dan pada akhirnya ia memandang perlu untuk menghentikan tugas-tugas universitasnya. Dalam periode yang sama, Weber menerbitkan sebuah esai tentang metodologi dimana ia memberikan garis besar penggunaan “tipe-tipe ideal.” Yaitu sebuah paham buatan yang dapat dipergunakan imuwan sosial mengkonseptualisasi kategori-kategori analitis dengan kegunaannya bagi pemahaman sejarah. Weber tidak pernah sukses dalam kehidupan politik pada skala yang ditentukannya. Meskipun dalam teori Weber memahami bahwa politik merupakan seni kompromi dan akomodasi, sebagian besar kegagalannya dalam menapaki karir politik tumbuh dari ketidakfleksibelan dirinya dalam berhubungan dengan orang-orang lain.

            Weber percaya bahwa dari sejarah orang tidak dapat menarik kesimpulan apa yang tidak terjadi dan bahwa sejarah tidak mengandung hukum-hukum universal, lebih sedikit hukum-hukum berfaktor tunggal seperti misalnya penjelasan tentang perkembangan dari sisi ekonomi. Pemahaman Weber tentang obyektivitas dan nilai-nilai membawanya memperbandingkan tipe-tipe ideal dengan fakta-fakta. Ia mekukannya dengan menyusun satu tipe ideal secara heuristic.

 

4.      Bagaimana perbedaan perspektif antara Marx dan Weber?

Jawab:

            Satu perbedaan fundamental orientasi Marx dan Weber yang membantu mengungkapkan bentuk alami pemikiran mereka adalah Marx melibatkan dirinya untuk menemukan pola-pola keseragaman yang mendasari setiap periode sejarah. Weber, di sisi lain, memandang kapitalisme Eropa sebagai puncak sejarah Eropa yang dianggap sebagai peradaban tunggal. Pandangan liberalis Weber seringkali dikaitakn dengan dampaknya terhadap ilmu sosial Amerika Serikat . Richard Aschcraft berpendapat bahwa Marx dan Weber secara mendasar telah mempengaruhi kecenderungan-kecenderungan yang divergen. Marx secara metodologi adalah Hegelian dan Weber adalah Kantian. Lebih jauh lagi Weber tidak seperti Marx, memisahkan pernyataan-pernyataan factual dan normative. Banyak perbedaan serta beberapa kemiripan dalam pemikiran Marx dan Weber yang teridentifikasi secara sistematik metrangkum beberapa gagasan utama yang mengalir dalam kerya-karya mereka.

 

5.      Jelaskan pengaruh-pengaruh pradigmatik perbandingan politik?

Jawab:

            Pengaruh Marx dan Weber pada setiap sub bidang perbandingan politik tidaklah seragam, dan sub-sub bidang tersebut tidaklah terbebas dari pengaruh yang lain. Elemen-elemen esensial pemikiran Marx yang mungkin relevan dengan pembahasan kritis teori sistem adalah tentang negara dan kelas penguasa, suprastruktur dan basis structural, kenyataan dan ideologi, kekuatan-kekuatan material dan hubungan-hubungan produksi, serta mode-mode produksi yang mencirikan zaman-zaman dalam sejarah. Negara berada di sisi kelas penguasa dan mengelola hubungan-hubungannya. Basis structural diketemukan dalam kekuatan-kekuatan material dan hubungan-hubungan produksi-mode produksi atau landasan sebenarnya yang menentukan pembagian pekerja dan kelas. Weber juga merujuk pada “kepentingan-kepentingan ideal dan material” di mana seluruh orang terlibat. Pengamatannya menyiratkan satu kemajemukan kepentingan serta banyaknya kekuatan yang bersaing, dan kewenangan didasarkan pada “orde tereligitimasi”. Seluruh pengertian ini disertakan dalam konsep Weber tentang negara. Marx memandang segala bentuk dominasi yang sah, dan Weber melihatnya sebagai bentuk-bentuk dominasi yang sah. Marx memaksakan penghapusan negara dan kelas-kelasnya; Weber membayangkan adanya kemajuan negara lewat legitimasi dari segala kegiatannya. Baik Marx maupun Weber menguji beberapa negara menggunakan kekuatan fisik atau kekerasan. Penjelasan Weber mengkombinasikan kekuatan negara dan kekerasan dengan legitimasi, sementara Marx memberikan definisi yang lebih luas dimana negara tidak lain hanyalah satu instrumen kekerasan yang menindas tingkatan-tingkatan yang lebih rendah. Pada akhirnya orang harus memutuskan apakah konfigurasi kelas membawa penelitian pada arahan yang berguna, di mana dalam hal ini arx memberikan perumusan analisis kelas yang sangat membantu. Namun demikian, seandainya kita memandang kelas sebagai hal yang kurang menarik, karena itu akan membelokkan penelaahan dari bentuk-bentuk situasional dan institusional kekuasaan sebegaimana ditunjukkan Weber, maka analisis kelas dapat ditinggalkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar