Selasa, 30 Juni 2020

Proses Perkembangan yang Dilakukan oleh perusahaan SACCHAROSE untuk Memperoleh Keuntungan serta Meningkatkan Perekonomian terhadap Negara Tujuan Ekspansi

Proses Perkembangan yang Dilakukan oleh perusahaan SACCHAROSE untuk Memperoleh Keuntungan serta Meningkatkan Perekonomian terhadap Negara Tujuan Ekspansi


1. Latar Belakang

Penangguhan Fiji dari Forum Kepulauan Pasifik dan Commonwealth di  Januari dan September 2009 adalah titik balik utama dalam bisnisnya  hubungan dengan komunitas internasional.  Dua peristiwa dramatis ini mencetuskan  perubahan kebijakan luar negeri Fiji, yang berlanjut hingga hari ini.  Mulanya, kebijakan-kebijakan ini diformulasikan untuk menghindari apa yang dilihat sebagai Australia / Kebijakan yang dipimpin Selandia Baru untuk mengisolasi Fiji, dan untuk melawan citra negatif dan kejatuhan yang diciptakan oleh suspensi.  Beberapa pemikiran radikal dimasukkan ke dalamnya kebijakan untuk menyalakan posisi Fiji di komunitas internasional sejalan dengan Piagam Pemerintah untuk Perubahan 2006.  Pilar 11 piagam mengharuskan Fiji untuk memperluas hubungan luar negerinya, melampaui sekutu tradisional ke negara-negara yang menghormati kedaulatan Fiji dan memahami kebutuhan dan tantangan tersebut negara sedang mengalami.Dikatakan bahwa 'diplomasi baru' ini merupakan penyimpangan besar dari kebijakan luar negeri Fiji masa lalu.  Skor kebebasan ekonomi Fiji adalah 62,2, menjadikan ekonominya ke-81  gratis di Indeks 2019.  Skor keseluruhannya telah meningkat sebesar 0,2 poin,  dengan lonjakan kesehatan fiskal yang melebihi penurunan tajam bagi pemerintah  integritas dan skor yang lebih rendah untuk kebebasan perdagangan.  Fiji berada di peringkat ke-18, 43 negara di kawasan Asia-Pasifik, dan skor keseluruhannya tepat di atas  rata-rata regional dan dunia.  Setelah serangkaian topan dalam beberapa tahun terakhir yang menyebabkan meluas  kerusakan pada perumahan, infrastruktur, dan tanaman, tujuan pemerintah  adalah untuk mengembangkan infrastruktur fisik Fiji untuk meningkatkan ketahanan  badai tropis dan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.  Biaya rekonstruksi telah sangat membebani keuangan publik.  Pemulihan lebih lanjut  terhambat oleh institusi, struktural dan kebijakan yang berkinerja buruk  telah melaksanakan serangkaian reformasi pro-bisnis.

Perubahan yang signifikan pada pertumbuhan perekonomian di Fiji sangat besar di pagaruhi oleh lonjakan pertaniannya, salah satunya adalah produksi gula. Meskipun pada sektor-sektor lain masih banyak yang menopang perekonomian seperti pariwisata dan garmen, tapi gula menjadi tulang punggung perekonomian di Fiji. Produksi gula ini tentu saja membutuhkan pengaturan serta managemen yang baik agar tidak berdampak negative atau malah menimbulkan kerugian terhadap negara. Maka alasan dari perusahaan SACCHAROSE sebagai mana telah dikenal sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan gula, melakukan ekpansi dan penetrasi ke negara ini. Namun tidak semudah itu, untuk dapat memasuki pasar Fiji ataupun degara lainnya tentu saja dibutuhkan pengenalan pada beberapa faktor yang mempengaruhi negara tersebut, seperti pemerintahan, potensi akademi, komoditas unggulan serta indeks kemudahan dalam melakukan bisnis di negara ini.

2. Rumusan Masalah

            Bagaimana proses perkembangan yang dapat dilakukan oleh suatu perusahaan untuk memperoleh keuntungan serta meningkatkan perekonomian negara tujuan eksapansi?

Bab II

Pembahasan

1. Sistem pemerintahan, potensi ekonomi dan komoditas unggulan Kepulauan Fiji

            Fiji awalnya merupakan negara yang berada dalam wilayah kekuasaan Inggris. Kedatangan warga negara India ke negara tersebut yang bermula dari pengolahan kebun tebu yang menjadikan mereka sebagai buruh ditempat itu akhirnya menjadikan mereka sebagai warga negara Fiji. Sebagai negara yang berada dibawah kekuasaan Inggris pada saat itu, akhirnya Fiji mengubah bentuk pemerintahan mereka menjadi Republik dengan tetap mengakui Ratu Elizabeth sebagai Ratu Fiji. Terdapat nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mempengaruhi juga sistem pemerintahan di negara ini yang diberikan bentuk konstitusional konkret dalam rekomendasi Komisi tentang struktur pemerintahan.  Mereka mewakili  perubahan signifikan dari konstitusi tahun 1990 dan 1970.  Untuk mulai dengan,  Komisi merekomendasikan bahwa Bose Levu Vakaturaga (BLV) seharusnya tidak hanya  diakui dalam konstitusi, seperti halnya pada konstitusi 1990, tetapi itu adalah  komposisi, kekuatan dan fungsi harus ditentukan lebih lanjut.  Ada yang meluas  mendukung pandangan ini, yang mencerminkan rasa hormat yang diberikan oleh lembaga tersebut terhadapnya  peran utama dalam urusan Fiji.  Beberapa orang Fiji ingin mengembalikan BLV ke aslinya  status, membatasi keanggotaannya sebagian besar ke kepala.  Komisi menilai  pandangan itu tidak praktis dan tidak konsisten dengan realitas kontemporer.  Dianjurkan  bahwa BLV harus terdiri dari campuran anggota yang dicalonkan oleh ketiga konfederasi  dan mereka yang dipilih oleh provinsi, selain lima anggota ex-officio termasuk Presi  penyok, kepala tiga konfederasi dan Menteri Urusan Fiji. Melalui proses panjang dan beberapa konstitusi maka ditetapkanlan sistem pemerintahan parlementer yang berjalan hingga sekarang. Konstitusi yang akan datang, menurut Komisi, harus secara umum dapat diterima oleh semua kota  ini;  menjamin hak individu dan kelompok dan mempromosikan aturan hukum dan  pemisahan kekuatan;  mengenali sejarah dan karakter Fiji yang unik;  mendorong setiap orang  komunitas untuk menganggap keprihatinan utama komunitas lain sebagai masalah nasional;  mengakui hak yang sama dari semua warga negara;  melindungi kepentingan dan perhatian vital dari  masyarakat asli Fiji dan Rotuman, dan semua kelompok lain, dalam kerangka demokrasi inklusif dan menyeluruh.  Konsekuensi dari pendekatan lain apa pun  terlalu sedih untuk direnungkan.

Dalam membangun negara yang lebih baik, tentu saja negara Fiji sama halnya dengan negara-negara lain yaitu meningkatkan perekonomiannya. Hal ini yang mendorong pemerintahan di Fiji untuk gencar melakukan produksi dan kerja sama perekonomian. Fiji sebagai negara kepulauan bisa dikatakan memiliki banyak sumber perekonomian yang di akibatkan letak dan potensi alam yang dihasilkan. Bukan menjadi keheranan jika Fiji mengutamakan perekonomian di bidang pertanian dan pariwisata. Sama dengan sejarah adanya negara ini yang awalnya hanyalah buruh untuk mengolahan tebu oleh bangsa Inggris, menjadikan pertanian tebu sebagai mata pencaharian dari masa-ke masa oleh negara ini. Adapun pengolahan tebu sendiri umumnya atau dapat dikatakan sebagian besar adalah untuk menjadikannya sebagai gula. Ekonomi Fiji, diubah secara drastis setelahnya Kolonisasi Inggris dengan diperkenalkannya modal dan tenaga kerja asing. Gula dengan cepat menjadi tanaman ekspor pokok.  Namun beberapa kendala pada saat itu, dikarenakan Australia yang melakukan  kunjungan di Papua, tidak mengizinkan pengenalan kepada pekerja migran, pemerintah Inggris mengizinkan orang India dibawa sebagai tenaga kontrak untuk memfasilitasi ekspansi industri gula.  Namun, kedua negara itu sangat mirip satu sama lain: populasi lokal dari kedua koloni memiliki sedikit pengaruh langsung peningkatan ekonomi tanaman komersial.  Fiji melanjutkan tradisi mereka cara hidup nasional, bahkan setelah Akta Kehancuran tahun 1874 ditandatangani oleh pemerintah Inggris dan kepala-kepala Fiji. Perjanjian ini mengakui merealisasikan kepemilikan komunal atas tanah oleh ribuan mataqalis, atau klan.

            Ekonomi Fiji sangat bergantung pada pariwisata, pengiriman uang, dan industri gula. Itu sebabnya Fiji kurang ahli dalam industry. Sama seperti negara-negara berkembang lainnya yang dominan memanfaatkan kestrategisan negaranya, Fiji pun lebih banyak melakukan ekspor terhadap hasil pertanian mereka. Namun kerap kali dikarenakan kurangnya ilmu dan sumber daya manusia yang menjadi masalah umum bagi banyak negara berkembang di dunia, menjadikan kerugian bagi negara tersebut dan mengakibatkan kesenjangan bagi para petani akibat ulah perusahaan-perusahaan yang melakukan kecurangan dan memanfaatkan para petani tersebut.

2. Indeks Kemudahan Berbisnis

Pada 2010, Fiji menyadari bahwa jika Pasifik ingin memiliki pengaruh atas caranya keputusan dibuat di tingkat multilateral, ia harus melakukannya dalam kelompoknya sendiri, Grup Asia.  Gagasan itu disusun untuk melobi untuk dimasukkan dalam nama dari grup.  Fiji menyiapkan makalah konsep yang diedarkan kepada semua 54 anggota negara-negara Grup Asia, termasuk PSIDS di New York.  Diskusi dan negosiasi membutuhkan waktu satu tahun (2009-2010) untuk mengembangkan konsep sebelum itu disajikan kepada kelompok.  Nayasi mengungkapkan: Kami pergi secara bilateral dan pada dasarnya meyakinkan semua anggota kecuali Cina dan India.  Kekhawatiran kedua negara ini berkaitan dengan jika kita menyebutnya sebagai Grup Asia – Pasifik, itu berarti Australia dan Selandia Baru akan menjadi bagian darinya kelompok karena ini adalah demarkasi di wilayah UNESCAP.  Kami punya diskusi dan kami menyarankan dua hal - menyebutnya Asia dan Pasifik Kecil Negara-negara Berkembang Pulau dan menyingkirkan wilayah Asia-Pasifik (Nayasi 2013).

Perusahaan multinasional Australia juga tidak menyadari, atau meremehkan, risiko politik yang mereka hadapi ketika mereka berinvestasi di koloni Fiji dan Papua Nugini.  Pada tahun 1970 CSR menemukannya diri tidak disukai dengan pemerintah Inggris, yang tujuan utamanya adalah untuk mempertahankan kompromi politik antara Fiji dan India di terest.  Keluarnya perusahaan dari Fiji pada tahun 1973 direda oleh perubahan strategi perusahaan yang mengalihkan bisnisnya dari gula dan ke sumber daya lingkungan. Meskipun situasi politik tetap tegang, menghasilkan empat kudeta militer sejak 1987 yang datang tentang untuk mempertahankan supremasi Fiji atas komunitas India, kondisi itu tampaknya tidak mengancam kepentingan bisnis asing.

Dorongan lain untuk kedudukan global Fiji datang pada awal 2012 ketika Brasil dan India mendukung Komodor Bainimarama untuk memimpin Dewan Gula Internasional (ISC) selama satu tahun.  Dewan adalah badan puncak untuk gula terbesar di dunia produsen, mewakili 86 negara.  Berbicara setelah pemilihannya di London, Bainimarama berkata: Pemilihan ini merupakan satu lagi kepercayaan internasional di Fiji dan Filipina Program reformasi pemerintah.  Kepemimpinan ISC kami menjadi yang teratas kehormatan luar biasa dari memimpin G77 dan China, baru-baru ini memimpin Negosiasi perdagangan UE – ACP, dan bergabung kembali dengan ACP Pasifik.  Fiji berdiri di dunia tidak pernah lebih tercapai. (Bainimarama 2012).

Dari yang dijelaskan mengenai hubungan kerjasama yang dilakukan oleh Fiji untuk meningkatkan perekonomiannya, tentu saja memudahkan perusahaan-perusahaan asing untuk masuk dan berkerja sama dengan negara ini. Ini yang menjadi peluang besar perusahaan SACCHAROSE untuk dapat melakukan ekspansi ke negara ini. Dengan persiapan yang matang dan optimisme terhadap keunggulan perusahaan ini, akan menjadi ketertarikan tersendiri terhadap negara Fiji untuk melakukan kerja sama tersebut.

3. Proses Perkembangan yang Dilakukan untuk Memperoleh Keuntungan serta Meningkatkan Perekonomian Negara Tujuan Eksapansi

            Kehadiran suatu perusahaan untuk melakukan ekspansi ke suatu negara tentu saja memiliki motivasi tertentu. Berbeda jenis perusahaannya, berbeda pula motivasi yang mendukungnya untuk melakukan ekspansi. Namun meskipun memiliki motivasi yang berbeda, tentu saja tujuan utama dari perusahaan tersebut ialah untuk mendapatkan keuntungan.  Untuk melakukan ekspansi sendiri tentu saja dibutuhkan tahapan-tahapan yang tidak mudah. Diantaranya adalah melakukan pendekatan terhadap negara tujuan ekpansi tersebut. Pendekatan tersebut juga pastinya melalui proses panjang baik untuk mengenal wilayah tersebut, mengetahui bentuk pemerintahan dan keadaan negara tersebut. Tidak hanya itu, penting juga untuk sebuah perusahaan mengenalkan perusahaan tersebut mulai dari tujuan hingga pada dampak yang dapat di berikan oleh sebuah perusahaan terhadap negara tersebut.

            Perusahaan SACCHAROSE merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industry gula yang melakukan pengolahan sendiri dengan memanfaatkan perkebunan milik pihak lain dan petani-petani setempat sebagai pekerja lapangannya.  Dalam hal ini, adapun tujuan dari perusahaan SACCHAROSE, selain untuk meningkatkan produksi dan keuntungan perusahaan juga salah satunya adalah untuk memberdayakan tenaga kerja dari warga setempat yang tentu saja bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani-petani di tempat itu. Bukan tanpa tujuan jelas, hal ini juga termasuk strategi untuk melakukan ekpansi ke negara Fiji agar mendapat kemudahan untuk masuk dan mengolah lahan pertanian di negara itu. Tapi tetap menjadi pertimbangan yang tinggi juga dikarenakan keadaan sumber daya masyarakat yang terbilang masih rendah, dapat menurunkan tingkat produksi yang mana akan merugikan perusahaan yang sedang beroperasi. Maka dari itu, sebelum memasuki dunia pasar yang lebih besar lagi, perusahaan SACCHAROSE melakukan pelatihan-pelatihan kepada para buruh maupun petani juga kepada karyawan pabrik yang akan mengolah lebih lanjut hasil dari pertanian tebu yang ada.

           

 

 

 

Bab III

Penutup

1. Kesimpulan

            Untuk melakukan ekspansi atau penetrasi ke sebuah negara, perusahaan harus mengetahui hal-hal yang dilakukan agar tidak rugi atau ‘tersesat’ di tengah-tengah proses produksi. Banyak hal yang harus diketahui agar dapat mudah memasuki pasar yang hendak dituju. Pendekatan yang baik terhadap negara tujuan ekspansi adalah hal yang sangat pentig. Hal ini yang menuntut perusahaan agar mampu mengetahui terlebih dahulu seluk-beluk dan keadaan yang tengah dihadapi negara tersebut. Dalam dunia bisnis, tentu saja hal yang di utamakan adalah untuk mendapatkan keuntungan yang besar ketika melakukan ekspansi. Namun, penting juga bagi sebuah perusahaan untuk lebih memperhatikan keadaan masyarakat di daerah ekspansi dan juga peningkatan kualitas sumber daya manusia yang di pekerjakan di perusahaan tersebut agar dapat meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan.

 

Daftar Pustaka

Taylor & Francis, Ltd. 2016. The Journal of Pacific History. Vol. 32, No. 1 (Jun., 1997), hal. 71-84. Jurnal. http://www.jstor.org/stable/25169315

Makereta Komai. 2015. The New Pacific Diplomacy: . Fiji’s Foreign Policy and the New Pacific Diplomacy. Book. http://www.jstor.org/stable/j.ctt19w71mc.16

President and Fellows of Harvard College. 2007. Postcolonial Experiences of Australian Multinationals: The Business History Review, Vol. 81, No. 2 (Summer, 2007), hal . 213-236. Jurnal. http://www.jstor.org/stable/25097337

https://kemlu.go.id/suva/id/pages/hubungan_bilateral/1530/etc-menu

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar