Annelies
E br Tarigan
Politik
Mongolia
Pada 13 Januari 1992, parlemen Mongolia mengadopsi
konstitusi baru. Konstitusi juga merestruktusi cabang legislatif pemerintah
dengan menciptakan legislatif parlementer unicameral. Konstitusi ini mulai
berlaku pada 12 Februari 1992 dan diubah pada 1999 dan 2001. Setelah 200 tahun
penindasan yang menindas dibawah Dinasti Qing, sistem politik Mongolia mulai
berubah pada tahun 1911 ketika negara itu mendeklarasikan kemerdekaannya dan
menunjuk Bogd Khan sebagai pemimpin negara dan agamanya, Buddha, Tibet.
Sistem politik negara menghadapi kebangkitan lebih
lanjut pada tahun 1921 ketika dibantu oleh Tentara Merah Rusia, Revolusi Rakyat
mengakibatkan Mongolia menjadi hanya negara sosialis kedua di dunia pada waktu
itu. Setelah kematian Bogd Khan pada tahun 1924, negara itu menjadi Republik
Rakyat Mongolia dan beroperasi sebagai negara satu partai dibawah rezim
kominus. Mongolia bergabung dengan PBB pada tahun 1961 tetapi kehidupan sebagai
negara komunis menjadi semakin sulit setelah runtuhnya seluruh sistem politik
sosialis dan Uni Soviet tanpa dukungan ekonomi dan bantuan keuangannya,
Mongolia mulai menderita dan negara itu menghadapi krisis nasional.
Akibatnya, setelah hampir 70 tahun sebagai negara yang
sosialis, Mongolia memulai gerakan untuk menjadi negara yang diperintah sendiri
Maret 1990. Sejak saat itu Mongolia telah menjadi negara yang menjalani politik
dan ekonomi transisi ke demokrasi parlementer dibawah aturan konstitusi baru
yang diadopsi pada tahun 1991. Mengambil inspirasi dari jatuhnya rezim Komunis
di tempat lain di Eropa Timur dan Uni Soviet, revolusi menyebabkan pemerintahan
Komunis digulingkan dan sistem multi-partai baru didirikan.
Untuk menetapkan identitasnya sebagai negara yang
demokratis, pada tahun 1992 pemerintah mengadopsi konstitusi baru dan membentuk
ekonomi pasar bebas, mengganti nama bekas Republik Rakyat Mongolia sebagai
Mongolia untuk menunjukkan keberadaannya sebagai negara demokrasi yang
independen. Di Mongolia pada 1990-an, gambaran sejarah mencerminkan kunci
kecenderungan untuk membangun konsep “Menjadi Mongol” yang mana konsep ini
bertentangan dengan keberadaan Cina dan Rusia. Meskipun setelah itu jelas
terlihat bahwa setelah keruntuhan sosialis pada tahun 1990, kecenderungan ini
hadir meskipun tidak diucapkan secara langsung.
Dibawah konstitusi yang baru, peemilihan diadakan
untuk menunjuk anggota-anggota ke Negara Besar Khural, parlemen Mongolia yang
juga bertanggung jawab untuk memilih presiden dan kepala negara pertama,
Punsalmaagiin Ochirbat. Dia memegang jabatan sampai tahun 1990 dan digantikan
oleh tiga presiden selanjutnya sampai pemegang jabatan saat ini, Khaltmaagiin
Battulga, terpilih untuk posisi tersebut pada tahun 2017.
Calon-calon presiden harus berusia 45 tahun atau
lebih, dan menjadi warga negara kelahiran asli Mongolia serta telah menetap
secara permanen di negara tersebut minimal selama lima tahun sebelum
mencalonkan diri. Pemilihan presiden dilakukan setiap empat tahun sekali dan
pada kandidat dicalonkan oleh mereka yang memiliki kursi di Negara Khural. Ada
76 kursi yang di parlemen yang diisi oleh pemilihan umum di 21 provinsi di
Mongolia. Gubernur masing-masing provini ditunjuk oleh Perdana Menteri. Semua
warga negara yang berusia diatas 18 tahun dan bertempat tinggal di negara
tersebutberhak untuk memilih dalam pemilihan Mongolia dan kandidat yang menang
di setiap distrik harus mencapai setidaknya 28% suara dari hasil pemungutan
untuk berhasil dipilih jika tidak diperlukan pemilihan sela.
Setelah memembebaskan diri dari batas-batas komunisme
dan sejak revolusi demokratik pada tahun 1990 yang memunculkan restrukturisasi
lengkap sistem politik negara itu, Mongolia telah berubah menjadi negara yang
merdeka dan berkembang. Dengan presiden dan pemerintah yang dipilih secara
bebas dan penduduk yang diberi hak pilih, Mongolia benar-benar telah datang
jauh sejak penindasan Dinasti Qing bertahun-tahun yang lalu.
Daftar
pustaka
Mongolia,
Political Sistem. 2004. Article
http://www.discoverimongolia.mn/blog-news-political-system/
kaplonski
Christoper, Truth,History, and Political in Mongolia. London. 2004. Book
https://www.amazon.com/truth-History-Political-Mongolia-Memory/dp/0415307988
Tidak ada komentar:
Posting Komentar