Empat pilar dalam GVC
1. Akses menuju pasar
Akses menujuu pasar secara luas
sangat relevan dengan inklusi dalam rantai nilai. Dalam konteks model ini.
Secara khusus merujuk pada keberadaan rantai nilai di antaranya produsen dan
pembeli dan juga bagaimana merek dapt berdiri. Secara tradisional, pasar spot
di sektor pertanian bangan berarti bahwa tidak aada hubungan langsung yang
diperlukan antara kedua produsen dan konsumen. Dan produsen menjual hasil
panennya kepada penawar tertinggi. Namun transformasi sektor-sektor ini dan
penekanan pada keamanan pangan telah terjadi peningkatan kebutuhan akan
karakteristik produk tertentu, mengendalikan produksi dan keterlacakannya. Tata
kelola sektor ini bergeser dari interaksi yang wajar ke hubungan yang lebih
dekat dengan pembeli yang menentukan dengan tepat produk apa yang di produksi
dan dengan kondisi seperti apa. Oleh karena itu, tahap pertama intervensi
membutuhkan hubungan antara produsen dan konsumen. Koneksi ini penting untuk
menuntun konsumen atau memimpin perusahaan mengenai potensi bisnis yang berasal
dari sumber yang kecil oleh produsen, serta memfasilitasi interaksi sampai
produsen kecil berada dalam posisi untuk mengelola hubungan secara
berkelanjutan.
2.
Akses Menuju Pelatihan
Mungkin banyak produsen kecil ysng
telsh bekerja di pertanian sepanjang hidup mereka, maka perlu dilakukan
pelatihan yang spesifik yang rutin untuk meningkatkan kualitas produk,
memperkenalkan teknologi yang baru serta varietas tanaman, dan juga untuk
mematuhi keamanan pangan dan sertifikasi persayaratan lainnya seperti
persyaratan yang mengatur mesuk ke dalam rantai nilai nasional, regional dan
sampai ke internasional. rantai nilai agro-pangan saat ini sangat canggih dan
tanaman ditanam dengan cara tradisional sehingga metode yang dibuat sering
tidak memenuhi persyaratan pasar internasional. Pengembangan keterampilan dalam
keterampilan dalam rantai nilai agro-pangan, secara umum telah diremehkan di
masa lalu dan focus pada pelatihan di tingkat komersial yang baru saja muncul.
Tingkat pendididkan di pedesaan di banyak negara berkembang yang cenderung
rendah dan membutuhkan bantuan teknis yang dijalankan oleh pemerintah sering
kali kekurangan staf dan tidak cukup siap untuk memenuhi kebutuhan pembeli yang
semakin benyak menuntut.
3.
Membangan Koordinasi dan Kolaborasi
Pembangunan koordinasi dan
kolaborasi harus dilakukan pada dua tingkat. Pertama koordinasi dan kolaborasi
horizontal antar produsen memfasilitasi pembentukan kelomok produsan
atauasosiasi, bukan hanya untuk mencapai skala ekonomi yang dibutuhkan tapi
juga untuk memberikan peluang agar dapat menambah nilai pada produk yang mereka
sediakan (peningkatan). Yang kedua, koordinasi dan kolaborasi vertical,
melibatkan interaksi dengan aktor lain dari rantai untuk membangun hubungan,
menemukan sinergi dan berbagi informasi untuk meningkatkan kinerja rantai
secara keseluruhan. Tahap berkelanjutan dimasukkannya dalam rantai nilai untuk
produsen keil sehingga memerlukan beberapa bentuk organisasi dalam cara
berkelanjutan untuk mencapai skala ekonomi.
Koordinasi dan kolaborasi horizontal
Produsen kecil dan menengah
membutuhkan skala ekonomi untuk dapat bersaing dalam pasar. Menurut
definisinya, mereka tidak memiliki skala yang dibutuhkan untuk menghasilkan
tanaman dalam jumlah besar. Biaya transaksi untuk berurusan denga produsen
perorangan tinggi dan tidak efektif biaya atau menguntungkan bagi pembeli untuk
bekerja dengan produsen secara individual. Pengorganisasian diri adalah tugas
yang sulit untuk dicapai bagi produsen kecil dan menengah. Komitmen produsen
tetap penting untuk keterlibatan yang sukses dalam koperasi. Jadi mereka sering
membutuhkan dorongan dan dukungan aktor eksternal untuk memahami dan menghargai
imbalan tindakan kolektif dan untuk menjadikan diri mereka sebagai organisasi
formal yang legal.
Koordinnasi dan kolaborasi vertical
Kordinasi dan kolaborasi di antara
para pemangku kepentingan rantai sangat penting untuk rantai kinerja dan
peningkatan. Rantai pemangku kepentingan mencakup semua aktor yang berperan
dalam pengemangan industry, termasuk produsen, penyedia input, perantara,
pembeli, asosisasi industry, lembaga keuangan, lembaga pemerintah yang focus
pada industry pengembangan, agen promosi ekspor dan lembaga pengatur. Mempromosikan dialog dan aliansi public dan
swasta sangat bermanfaat tidak hanya untuk menyelesaikan informasi asimetri
untuk petani kecil, tetapi juga kemajuan industry di tingkat lokal dan negara.
Aliansi ini memberikan wawasan tentang tantangan dan peluang yang dihadapi oleh
sektor dengan tujuan akhir mengoordinassi dan menetapkan strategi pengembangan
industry bersama.
4.
Akses ke Keuangan
Masuk kedalam rantai nilai
membutuhkan investasi tertentu untuk mencakup infrastruktur, peralatan dan
mendapatkan sertifikasi. Namun, produsen kecil sering kali mengalami kendala
likuiditas dan kredit serta tidak memiliki akses ke saluran keuangan formal,
yang keduanya membatasi poteni merekak untuk melakukan investasi yang
dibutuhkan. Kredit untuk produsen kecil terkendalam karena beberapa alasan,
termasuk resiko tinggi, informasi asimeris, kurangnya jaminan, penyebaran di
daerah pedasaan dan kebijakan ekonomi yang tidak menguntungkan. Batasan kredit
ini mencegah produsen kecil berinvestasi dalam peralatan yang diperlukan,
seperti sistem irigasi, rumah kaca, atau penyimpanan dingin untuk mencapai
peningkatan produktivitas, untuk menyembangkan bagian tanah mereka yang tidak
terpakai atau untuk meningkatkan hasil produk mereka menjadi bernilai lebih
tinggi, sehingga membatai potensi mereka untuk berpartisipasi dalam koortdinasi
nilai rantai. Intervensi dapat memfasilitasi akses keuangan melalui berbagai
model.
Gereffi
Gary, Fernandez-Stark Karina. 2016. Duke University. Global Value Chain
Analysis. Book
https://www.researchgate.net/publication/305719326_Global_Value_Chain_Analysis_A_Primer_2nd_Edition . Diakses pada senin 18 November 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar